Skip to content

Teka-Teki Pujangga

Teka-Teki Pujangga

Samar. Dunia sastra gempar saat pseudonim J.K Rowling terungkap.

Nama samaran adalah bagian tak terpisahkan dari bidang tulis menulis dan terkadang lebih populer daripada nama asli si pengarang karya sastra. Jika anda familier dengan kesusastraan, nama Mark Twain dan Remy Sylado adalah contoh 2 pujangga yang lebih dikenal nama penanya.

Bagaimana dengan Sastra Jawa? ternyata ada juga samar-menyamar identitas sastrawan. Kita akan mengulas 2 orang pujangga sastra Jawa paling kondang, yaitu Mpu Prapanca (era Jawa Kuna), dan R.N Ranggawarsita (Jawa modern), yang mempunyai karakter “teknik penyamaran” berbeda.

Mpu Prapanca

Salah satu karya Prapanca yang mengagungkan namanya adalah Negarakertagama, sekitaran era Majapahit. Untuk lebih detail tentang Negarakertagama silahkan ke wikipedia.

Pujangga Jawa klasik ini menggunakan sanepa (teka-teki) sebagai tabir identitasnya, dan baru berhasil terungkap di abad 20 (setelah sekitar 6 abad sejak penulisannya), melalui perdebatan panjang hasil penelitian para Profesor Sastra Jawa seperti Kern, Krom, Poerbatjaraka, Slamet Muljana, Juynboll, Pigeaud, yang kesemuanya sudah almarhum, sehingga kajian tentang Mpu Prapanca belum terselesaikan dengan tuntas.

Inilah beberapa clue teka-teki identitas Prapanca, yang dengan sengaja ia sertakan dalam isi karya Negarakertagama, dengan permainan kata dan arti samar.

-          Dalam teks Negarakertagama, dia mengungkap bahwa penulis ‘maparab Prapanca’ artinya ia punya paraban (nama olok-olok) Prapanca.

-          Beberapa analisa sanepa : ‘Prapanca’ berarti ‘rintangan, penghalang, penyesat’, adalah sindiran situasi politik pada saat itu di Majapahit, di mana sedang terjadi clash antara penganut Siwa dan Buddha. Prapanca menuliskan bahwa ia adalah seorang pemimpin agama Buddha resmi kerajaan yang saat itu seolah ‘disingkirkan’ karena diaggap sebagai ‘perintang, penyesat’ dari kerajaan yang lebih pro Siwa/Hindu. Dalam karyanya yang lain, Prapanca memakai pseudonim Mpu Dusun, untuk menggambarkan bahwa dia adalah pujangga yang bertempat tinggal di dusun, karena terusir dari kraton.

-          Hipotesa lain berdasarkan sanepa kata ‘Pancaksara’ (yang juga disebutkan oleh Prapanca dalam satu bagian teks negarakertagama), yang diartikan oleh Kern sebagai ‘5 aksara’, dan dibantu penelitian silsilah struktur pejabat dan sejarah kerajaan Majapahit, disimpulkan oleh Prof. Slamet Muljana bahwa Kanakamuni (Ka-Na-Ka-Mu-Ni, 5 aksara/suku kata) adalah pemimpin besar Buddha pada era yang dimaksud dalam teka-teki pengarang, yang tak lain kemudian ‘menyamar’ sebagai Mpu Prapanca

 

Raden Ngabei Ranggawarsita

Pujangga kraton Surakarta yang tersohor. Beliau juga sering membuat teka-teki dalam karyanya, dengan permainan kata yang disebut Sandiasma. Coba cermati huruf bold dan underline dalam beberapa karyanya dibawah ini

rarasing kang sekar sarkara mrih

den aksama dening sudyarsa

ngawikani wengkuning reh

beraweng para ratu

ilanga kang sesangker sarik

rongas westhining angga

gagating tyas antuk

wartaning kang parotama

sinung tengran sembah trus sukaning budi

tataning kang carita

—–

Contoh lain :

Dalam karyanya ‘Kalatidha’ : “…borong angga sawarga mesi martaya”

 

Yang lebih susah, Ranggawarsita pakai nama gelar/nama julukannya :

lir brataning reksi wara

micara reh sadu budi

marsudi mrih dipaning tyas

memenget mring pra taruni

wit jroning jaman mangkin

keh rubeda sumarawung

yen limut rasikeng tyas

korup mring reh karya sisip

temah sirna talering titah utama

= Reksa dipraja Surakarta (penjaga/abdi dalem kraton Surakarta)

 

Entah apa tujuan dan latar belakang yang sebenarnya dari para pujangga. Mereka selalu saja mendahului pikiran pembacanya

 

 

Rahayu,

*******

 

 

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*