Skip to content

Orang Jawa “Naik” Dari Tanah (1)

“Nglempit Klasa”­

Kali ini kita bicarakan orang Jawa pada lingkup masyarakat umum, pribumi non kraton.

Kondisi alam Jawa pada masa lalu masih rimbun dan hijau luas, masyarakat Jawa masih banyak yang tinggal di hutan, bahkan kota pun berbatasan langsung dengan hutan. Dikarenakan kondisi lokasi tersebut, muncul budidaya hasil hutan untuk pemenuhan hidup, diantaranya kebutuhan perabot rumah tangga yang kemudian menghasilkan teknologi ‘anyaman’, seperti keranjang, gedheg, bleketepe, dan yang akan jadi fokus di sini, tikar.

Tikar menjadi bagian hidup orang Jawa saat itu dan masih lestari sampai saat ini. Di desa-desa jaman sekarang, orang makan, tidur, ngobrol, sembahyang, rapat, njagong manten, layat,  gojeg, ronda, pacaran, judi, bahkan mancing ikan pun dilakukan di atas tikar. Di situ, kita masih melakukan aktifitas sehari-hari dengan cara nglemprak (duduk menempel) di tanah.

Pada abad 16-17, datanglah secara sporadis orang China ke kota-kota pesisir Utara Jawa. Sebagian dari mereka adalah para ahli kayu. Mereka berbaur dengan masyarakat Jawa, memperkenalkan teknologi mebel dan furniture dari kayu.

Kemudian masyarakat kota mengenal meja,kursi, katil/dipan/tempat tidur, almari. Orang perkotaan menerima perabotan yang pada saat itu dianggap sebagai ukuran kesantunan dan kesopanan, dan menaikkan status sosial dengan memilikinya. Orang Jawa mulai “naik” dari tanah, dan meninggalkan tikar serta menggantinya dengan furniture kayu yang dibuat dan dijual oleh para tukang kayu pendatang itu. Nilai tata krama orang Jawa telah terbarukan dengan datangnya perabotan asing.

Mekipun begitu, tak satupun perbendaharaan kata perabot-perabot tersebut yang menggunakan bahasa China. Kursi dari bahasa Arab, katil (Tamil) yang lebih dikenal dengan ‘tempat tidur’, meja dan lemari dari bahasa Portugis.

Sejak itu posisi tikar yang boleh dikatakan karya ‘masyarakat hutan’ Jawa semakin terpinggirkan, dan seolah hanya dipakai oleh ‘masyarakat kelas bawah’, meskipun terdapat beberapa fungsi yang tidak bisa digantikan oleh perabot kayu.

__________________________________________

–Catatan kaki—

Seorang tokoh yaitu Kyai Telingsing, makamnya di Kudus, di kampung Sunggingan, yang artinya “wilayah tukang kayu”. Kyai tersebut asalnya dari China, bernama The Ling Sing. Ia hidup dan menjadi sahabat Sunan Kudus, sekaligus bertanggung jawab dalam penyebaran kerajinan kayu di daerah Gunung Muria, tidak hanya Kudus, tapi juga di Jepara, dimana tradisi kayu di sana masih berjaya sampai sekarang.

Bersamaan dengan gelombang pendatang China di Jawa, masuk pula para ahli kayu dan ukir, yang warisannya pada arsitektur dan ukiran hias masih nampak di klenteng-klenteng, perabot rumah meja tinggi, dingklik berkaki melengkung keluar, kursi dengan handrest dan sandaran melengkung, tempat tidur bertiang dan berkelambu, motif ukiran naga,kuda sembrani, swastika.

 

Rahayu,

*******

2 Comments

  1. sandalian wrote:
    Pantesan di budaya Jawa sepertinya ndak ada semacam table manner kalau pas makan gitu ya, wong ga ada budaya meja makan.

    Tulisan menarik Mas, salam kenal :D

    Tuesday, August 27, 2013 at 12:47 pm | Permalink
  2. salam kenal juga mas :-)
    Tuesday, August 27, 2013 at 1:13 pm | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*