Skip to content

YANG SELALU TERBARUKAN (1)

Jawa, sebuah pulau yang karena faktor arah angin, arus laut, dan keadaan politik pada masa lampau, menjadi bandar penting dalam jalur perdagangan laut di Asia via Nusantara. Nusa yang berada di “antara” 2 jalur perlintasan budaya yang lebih dulu mapan, kebudayaan dari sebelah Barat Nusantara, dan sebelah Utara Nusantara. Keadaan itulah yang membikin sejarah budaya Nusantara termasuk Jawa, mubal….

Sejarah Bahasa Jawa

Ditemukannya peninggalan tradisi tulis telah disepakati sebagai penanda perbedaan jaman prasejarah dan jaman sejarah. Anda masih ingat bahwa sampai saat ini bukti tulis tertua yang ditemukan di Nusantara yang diakui adalah prasasti Kutai (abad ke-5 Masehi, aksara Pallawa, bahasa Sansekerta). Maka mulai dari situ sajalah kita sepakati, era sejarah Nusantara dimulai, kiranya bersamaan dengan gelombang masuknya tradisi tulis dari India yang menyebar di pesisir pulau-pulau bagian Barat Nusantara, termasuk Jawa. Perlu kajian lebih mendalam tentang kebudayaan Nusantara sebelum Kutai, tapi saya belum berani sampai ke sana.

(Dan abaikan rumor-rumor ATLANTISASI dan SURGANISASI pulau Jawa dan Nusantara dari sumber-sumber yang belum jelas itu)

Bagaimana dengan sejarah sastra di Jawa? Prasasti Sukabumi tercatat sebagai temuan tertulis tertua yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna, tertanggal 25 Maret 804. Walaupun di sana juga ditemukan prasasti lain yang lebih tua, berangka tahun 732, tapi berbahasa Sansekerta. Tidak sukar untuk mengetahui tanggal penulisan sebuah karya Sastra Jawa, karena ada tradisi penulisan tanggal (kadang njlimet) yang sering dituliskan pada bagian awal prasasti atau karya sastra, misal pada prasasti ini ditulis: “tahun 726 Saka, dalam bulan Caitra, hari kesebelas paro terang, pada hari Haryang (hari kedua dalam minggu berhari lima), wage, Saniscara (hari ketujuh dalam minggu yang berhari tujuh)”. (buku Kalangwan, Zoetmulder).

Sebelum masa itu, bahasa Sansekerta merajalela di Nusantara, sampai-sampai si pengembara I Tsing di abad ke-7 dari China itu belajar bahasa Sansekerta di Sriwijaya. Dan beberapa sumber dari China mengatakan bahwa teks sanskrit Buddhis sudah dikaji di Jawa pada abad ke-5. UGM juga menyatakan bahwa sekitar 30% bahasa Jawa Kuna diperkaya bahasa Sansekerta.

Mari berandai-andai, pada saat itu sudah ada orang Jawa yang berkomunikasi dengan bahasa Jawa kuna atau Jawa Kawi. Kemudian datang budaya baru dari India yang lebih maju, khususnya dalam kesusastraan dan kebahasaan, sehingga menambah banyak sekali entry baru pada bahasa Jawa. Prinsip gampangnya, setiap teknologi baru, pasti membawa istilah baru. Pada saat itu hadir Hindu-Buddha, sebuah teknologi baru tentang teologi bagi orang Jawa. Terbawalah masuk ke bahasa Jawa dewa-dewi India, tradisi sastra tulis (epos Mahabharata dan Ramayana), tata negara dan hukum perundangan, dan lainnya. Semuanya tersebut kebanyakan ditulis dalam bahasa Sansekerta, otomatis timbul hal-hal baru dalam kebahasaan.

Budaya tulis-menulis berkembang sejak saat itu. Hindu-Buddha memiliki tradisi tulis yang sangat kuat, bahkan penyalinan kitab-kitab suci agama merupakan salah satu ritual. Meski kita punya kosakata dan pola linguistik yang non-Sanskrit, namun bukti-buktinya masih suram dan kurang kurang jelas dalam memerikan tradisi bahasa pribumi yang dipakai sebelum itu. Seorang filolog kondang bernama J. Gonda punya pendapat menarik bahwa Bahasa Sansekerta itu rumpun dan polanya berbeda dengan bahasa pribumi, bahasa tersebut hanya memperkaya Bahasa Jawa Kuna yang sudah ada.

Lantas, sampai saat ini kita masih menduga, bagaimana cara moyang kita dulu berkomunikasi sebelum kenal sama orang-orang India dan bahasa Sansekertanya itu? Belum ada yang tau…

Di bidang seni sastra sudah sangat jelas bahwa kesusastraan Jawa mengadopsi sastra asing sejak awal. Kisah Mahabharata dan Ramayana yang di-convert dari Sastra Sansekerta dan dibarukan dengan sistem penulisan puisi bahasa Jawa, seperti pada kakawin, lalu berkembang kidung, macapat, geguritan. Meskipun banyak muatan lokal Jawa yang dibaurkan dalam proses pembaruannya, seperti munculnya tokoh-tokoh lokal (paling populer adalah punakawan) yang bahkan tidak ada ada pewayangan India.

Pada akhirnya tidak mungkin mengelak bahwa Hindunisasi telah membarukan kelahiran sastra dan bahasa Jawa Kuna. Sastra klasik yang tamat setelah berakhirnya era Hindu karena masuknya Islam ke Jawa, lalu terbarukan lagi dengan bahasa Jawa Pertengahan dan bahasa Jawa Baru/modern (bahasa Jawa sekarang ini), bebarengan dengan masa-masa membanjirnya para pendatang dari Arab, China, Eropa ke Jawa, dan asimilasi yang lebih kompleks lagi antara bahasa Jawa dan lain dari Parsi-Hindi-Tamil-Hokian-Tagalog-Belanda-Portugis dll.

Di jaman yang serba berubah ini, kita tunggu saja, mungkin nantinya akan muncul Bahasa Jawa post modern atau malah Bahasa Jawa Digital?

———-

Apa yang kita kobarkan tentang nguri-nguri budaya, andai kita mau jeli, hal itu kemudian tak lebih dari sekedar “perpanjangan waktu” dari proses pembaruan budaya lama. Kebudayaan Jawa adalah budaya yang dengan segala keluwesannya mampu mencarub semua yang datang, lalu membarukannya menjadi budaya yang siap dibarukan lagi, dan lagi. Inilah budaya yang update-able.

(Sumber bacaan : Kalangwan – P.J  Zoetmulder | Nusa Jawa Silang Budaya – Denys Lombard | wikipedia | dan berbagai kutipan dari para ahli dan para dosen Sastra Jawa)

 

Rahayu,

*******

7 Comments

  1. lantip wrote:
    endnote-nya saya setuju. budaya itu berkembang dan manusia jawa sudah terbukti luwes dengan holobis kuntul barisnya :D

    monggo dhahar globalisasi. lalu mas paksipun ngeblog :D horeeee

    Monday, July 15, 2013 at 1:16 pm | Permalink
  2. Paksi Raras Alit wrote:
    Matur nuwun sudah mampir mas lantip
    Monday, July 15, 2013 at 1:49 pm | Permalink
  3. temukonco wrote:
    akhirnyaaa.. ngeblog bab kabudhayan jawi.. wanguunn.. eh tapi blog e sing mbiyen njuk ra aktif meneh pho?
    Monday, July 15, 2013 at 4:48 pm | Permalink
  4. Paksi Raras Alit wrote:
    Bloge sing mbiyen lali passworde…hehe
    Monday, July 15, 2013 at 6:32 pm | Permalink
  5. bokir wrote:
    hmmm…
    Tuesday, July 16, 2013 at 2:51 am | Permalink
  6. aku yo njuk dadi penasaran. Piye penampakan e ketika bahasa Jawa Kuna ketemu dengan Sansakerta pertama kalinya. Nggo #kode sek ra yo?
    Thursday, July 18, 2013 at 6:12 am | Permalink
  7. wahahaa…apik kuwi
    Thursday, July 18, 2013 at 7:05 am | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*