Skip to content

Mengapa Tidak Boleh Menikah di Bulan Sura?

[dengan segala kerendahan hati, tulisan ini bukanlah kesimpulan hasil pengamatan, hanyalah opini pribadi penulis berdasarkan sumber pustaka yang sedikit, dengan kajian yang dangkal]

Banyak sekali penjelasan dan opini simpang-siur di masyarakat Jawa untuk jawaban pertanyaan di atas. Ada yang bilang, kalau bulan Sura itu yang boleh menikah hanyalah keluarga kraton, karena bulan istimewa, ada yang bilang kalau bulan Sura itu malati, dan banyak sekali yang lainnya. Wawiwu akan ikut menyumbang versi jawaban, sekedar untuk bacaan saja dan jangan diacu untuk apapaun, karena sangat lemah kadar ilmiahnya.

Berawal dari Masuknya Islam ke Jawa

Bulan Sura atau bulan Muharram tentunya berkaitan sangat erat dengan budaya Islam yang masuk ke Jawa. Seperti di beberapa artikel wawiwu sebelumnya dijelaskan bahwa proses masuknya budaya Islam ke Jawa berlangsung bertahap berabad-abad dengan berbagai jalur, berbagai mazhab, dan berbagai kepentingan, proses akulturasinya pun bercampur aduk dengan budaya-budaya yang sudah ada maupun dengan budaya baru yang datang kemudian. Latar belakang ini kiranya yang akan dipaparkan penulis untuk menjawab judul artikel ini.

Slamet Muljana mencatat bahwa Islam yang masuk pertama kali di Nusantara adalah Islam aliran syiah, dan terdokumentasi di Peureulak Aceh, sebelum berkembang ke Samudra Pasai, dan merambah ke Jawa dan berbagai tempat di Nusantara. Pada perkembangannya memang Islam sunni yang akhirnya mendominasi Nusantara, dengan berbagai macam gejolak dinamika politik (termasuk perang Padri) yang mengikutinya, aliran syiah ini tidak serta merta hilang dari peredaran, dan beberapa ajarannya malah bercampur dengan apa yang ada sekarang dan menjadi ciri yang baru di Jawa, seperti ziarah makam, kenduren, yasinan, dan lainnya. Serapan-serapan ajaran syiah itulah yang menurut penulis juga mempengaruhi tradisi pengkultusan bulan Muharram, sehingga masih banyak masyarakat Jawa yang tidak menggelar hajatan di bulan Sura.

Dalam sejarah kemunculan syiah yang diawali dengan perebutan warisan imperium Islam antar khalifah pasca Muhammad, munculah kaum pengikut Ali bin Abu Thalib (sepupu dan menantu Muhammad) yang berpandangan bahwa kekuasaan Islam seharusnya diwariskan pada keturunan genetis Muhammad. Setelah wafatnya Ali, aliran ini diteruskan oleh putranya Hasan dan Husein yaitu cucu Muhammad dari perkawinan Ali dengan Fatimah. Sebuah konflik sejarah menuliskan bahwa Husein meninggal dalam peperangan di Karbala, pada tanggal 10 Muharram. Kematian cucu Muhammad tersebut dianggap bencana besar oleh golongan syiah, dan peringatannya kematian Husein masih dirayakan sebagai hari besar kematian pahlawan syiah sampai saat ini di beberapa negara, dengan menganggap 1o hari pertama di bulan Muharram adalah hari berkabung, tidak melakukan kegiatan yang bersenang-senang, dan pada jaman dahulu di beberapa daerah di Timur Tengah para wanita memperingatinya dengan bersedih menangis selama sepuluh hari untuk menangisi kematian Husein. Ada yang menyebut peringatan tersebut sebagai Hari Asyura (Sura), walaupun ada yang menyatakan juga bahwa Hari Asyura ini sudah diperingati dalam budaya Yahudi pra Islam, (penulis tidak mengkaji sampai ke sana) dan diperingati dengan berbagai ritual, antara lain puasa tanggal 10 Muharram, karnaval sambil berduka memukul-mukul dada dan menyiksa diri sebagai simpati kematian Husen. Hal tersebut rupanya juga masuk ke tradisi Islam awal di Nusantara, dengan adanya peringatan serupa di beberapa daerah di Sumatera dan beberapa di Jawa dan juga pembuatan bubur sura (silahkan browsing tentang bubur sura ini). Di melayu kisah ini ditulis dalam karya sastra Hikayat Hasan Husen.

Rupanya, anggapan tentang bulan Sura sebagai bulan duka tersebut, berakulturasi dalam perkembangan Kerajaan Mataram Islam yang pada awalnya sejarahnya memang “kedatangan” berbagai mazhab Islam dari segala penjuru, dan berbaur dengan padu sehingga menimbulkan karakter baru seperti saat ini, yang sering disebut para ahli sebagai Islam Jawa, dengan Kraton sebagai pusarnya.

Sekali lagi, tanpa ada maksud untuk menguraikan tentang agama, penulis hanyalah lulusan kuliah yang mempelajari tentang sejarah kebudayaan Jawa, jadi kiranya sudut pandang dalam tulisan ini adalah sejarah saja.

Rahayu,

*******

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*