Skip to content

Ratu Adil (2) – Pangeran Dipanegara

Konsep Ratu Adil terakhir ini hampir berhasil, dan telah mempengaruhi sebagian besar pulau Jawa, dan mampu menggerakkan  rakyat sesuai dengan pemikiran Dipanegara, melalui pergerakan Perang Jawa (1825-1830). Perang Jawa sendiri sebenarnya sudah lama direncanakan oleh Dipanegara, yang memang berniat melakukan pemberontakan terhadap kondisi yang ada pada saat itu di Jawa.

Pemicu perang sudah mulai dirasakan saat pendudukan Kraton oleh Inggris (1812), disusul kemudian Raffles yang membentuk kerajaan “keempat” di Jawa, yaitu Kraton Pakualaman untuk HB II yg pro Eropa. Peristiwa tersebut menimbulkan kekesalan besar Dipanegara, ditambah juga setelah Inggris digantikan lagi oleh Belanda, Kraton tetap saja “dibawah” pengaruh Belanda. Pemicu lain adalah perselingkuhan selir Dipanegara dengan Asisten Residen Chevallier, dan juga kisah populer yang kita kenal dari buku sejarah sekolah tentang pelebaran jalan di sekitar ibukota Jogja oleh Residen Smissaert yang mencaplok tanah leluhur Dipanegara, disertai kisah ndhupak tembok Tegalrejo oleh Dipanegara dan kudanya, Gagak Rimang, saat usaha penangkapan Dipanegara pertama kali.

Hal-hal tersebutlah yang memicu pemberontakan Dipanegara kepada Kraton (dan Belanda) serta menimbulkan perang Jawa di sebagian besar pulau Jawa. Untuk dapat memperoleh dukungan rakyat Jawa, Dipanegara memunculkan konsep Ratu Adil dalam gerakannya, serta dengan sengaja ‘membelokkan’ perang pemberontakan ini sebagai perang sabil, semacam perang padri. Hal ini disengaja untuk memperoleh bantuan dari rakyat yang pada saat itu mayoritas Islam dan berada di pesantren-pesantren desa di bawah kepemimpinan kyai, ulama, haji, salah satu yang terkenal adalah Kyai Maja. Alhasil rakyat terpikat dengan jihad Dipanegara memerangi Belanda yang dianggap kafir, dan juga etnis Cina yang karena alasan kecemburuan sosial, dijadikan musuh juga dalam padri Dipanegara. Memang Dipanegara mempunyai latar belakang kegemaran besar terhadap Kesultanan Ottoman di Turki, sehingga kesatuan-kesatuan armada Dipanegara pun dinamai mirip, seperti Bulkio, Turkio, Arkio, dan lainnya. Di samping itu, strategi menjadikan perang ini sebagai jihad Islam, benar-benar jitu untuk berhasil menggerakkan rakyat Jawa pada saat itu.

Sayangnya pergerakan Ratu Adil tersebut terlalu singkat bertahan di Jawa dan berakhir setelah ditumpasnya Dipanegara. Namun konsep tentang tokoh ratu Adil telah begitu mendarah daging dan diwariskan turun-turun di masyarakat Jawa, dan bahkan meluas ke seantero Nusantara, sehingga angan-angan tersebut selalu muncul setiap kali rakyat berada dalam situasi pergantian raja atau pemimpin, seperti saat ini.

 

Rahayu,

*******

Diambil dari berbagai sumber :

- Asal-Usul Perang Jawa : Peter Carey

- Sanskrit Grammar and Sanskrit Dictionary : A.A. MacDonell

- Nusa Jawa Silang Budaya : D. Lombard

- Catatan materi kuliah

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*