Skip to content

Ratu Adil (1)

Pada masa-masa suksesi pemimpin seperti ini, sering muncul istilah Ratu Adil, yang selalu dikaitkan dengan munculnya sosok baru yang ditakdirkan untuk membawa kebaikan, keselamatan dan perubahan, sesuai dengan mitos masyarakat. Tapi apakah sebenarnya Ratu Adil tersebut? Seperti biasanya, kami akan membahasnya dari sudut pandang sejarah.

Ratu Adil adalah sebuah konsep yang sudah mengakar dalam pemikiran masyarakat Jawa sejak ratusan tahun yang lalu. Konsep tentang tokoh ini dibawa dari India melalui kebudayaan Hindu yang masuk ke Jawa. Dalam tradisi Vedic Hindu, terdapat sebuah konsep tentang sosok juru selamat dunia, yang berwujud dalam peristiwa Avatar. Tentu bukan avatar seperti yang kita kenal dalam film makhluk biru itu, ataupun avatar tokoh kartun Nickelodeon itu.

Dari kata sansekerta ‘tar’­ yang berarti menyeberang /melintas, Avatar secara harfiah adalah perjalanan menyeberang Dewata dari dunia Dewa, ke dunia manusia, dan dunia bawah (konsep tribhuwana Hindu), untuk mensucikan kembali alam semesta, atau kemudian kita kenal dengan nama inkarnasi. Avatar adalah proses inkarnasi dalam tradisi Hindu yang terjadi di akhir jaman Kali Yuga, yaitu sebuah perhitungan siklus waktu menurut tradisi Veda (silahkan browsing lebih lanjut tentang ini). Jaman Kali Yuga adalah jaman akhir dari suatu siklus untuk kembali lagi ke jaman Yuga awal, dan biasanya akan melewati fase kehancuran alam, mirip dengan konsep kiamat yang kita kenal. Pada setiap akhir zaman tersebut, akan muncul ke dunia sosok inkarnasi avatar. Sudah beberapa kali terjadi proses avatar dalam tradisi tersebut, dan masih akan terjadi lagi selanjutnya, salah satu yang paling populer yang kita kenal adalah munculnya Krishna dalam kisah Mahabharata, dan Sri Rama dalam kisah Ramayana. Kedua tokoh tersebut merupakan inkarnasi dewa yang datang untuk menyelamatkan bumi

Konsep avatar tersebut ternyata telah menjadi kepercayaan kuat dalam budaya Jawa, dan juga ditambah lagi dengan masuk budaya dari Timur Tengah, yang entah mengapa juga mempunyai konsep ‘mesias-juru selamat’ yang setipe dengan konsep avatar Hindu sebelumnya di Jawa. Masuknya paham tentang Isa sebagai Juru Selamat (baik Islam mapupun Nasrani), serta masuknya konsep Imam Mahdi dari paham Mahdistik. Konsep-konsep tersebut semakin menebalkan kepercayaan masyarakat tentang datangnya Ratu Adil untuk mengentaskan mereka dari kehidupan yang kacau. Dari peradaban manapun di masa apapun, karakteristik sosial masyarakat yang selalu merasa sengsara, berdosa, kekurangan, mengeluh, selalu terbentuk dalam keseharian kehidupan manusia. Oleh karena itu figur juru selamat akan sangat mudah mengambil peran dalam karakter masyarakat tersebut.

Di Jawa, konsep savior yang telah menjadi buah pikiran dan meluas tersebut pernah dibangkitkan dengan pergerakan yang hampir saja sukses. Adalah Pangeran Dipanegara yang memunculkan konsep ratu adil ini, dan bahkan mengangkat dirinya sendiri dengan gelar erucakra (nama Jawa dari Ratu Adil), panatagama, utusan rasul dan lainnya. Sehingga rakyat pun percaya Pangeran trah Kraton Jogja tersebut, dan setia mengikutinya

(bersambung)

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*