Skip to content

Sekulerisme dari Yogyakarta (2)

Di bagian ini, akan dibahas sekulerisme versi yang lain. Yaitu munculnya gerakan kebalikan dari Arabisasi, dari para pendukung tatanan lama yang tidak tinggal diam. Terdapat sejumlah teks tembang Jawa, dari abad ke-19 yang mencerminkan penentangan ortodoksi Islam di Jawa. Yang paling masyur adalah Serat Centhini (1815), yang mengisahkan pengelanaan Syekh Amongrogo, keturunan Sunan Giri, yang diusir dari wilayahnya oleh pasukan Sultan Agung, dan selanjutnya mengembara ke seluruh pelosok Jawa untuk menemui satu persatu pertapa dan orang-orang  bijak. Setiap pertemuan tersebut adalah perdebatan pokok bahasan agama, yang bisa dikatakan ensiklopedi Jawaisme. Syekh Amongrogo tidak hanya memusuhi Islam yang menjadi agama negara Mataram, tapi juga segala macam “reformasi arabisasi”. Kita akan bahas Centhini panjang lebar kelak suatu hari nanti.

Kemudian pengungkapan pemberontakan lebih jelas lagi adalah Suluk Gatoloco (1830) dan Serat Darmagandul (1879). Tokoh Gatoloco (Gato, “penis) adalah gatra dari pemujaan “lingga” dalam tradisi pra-Islam. Gatoloco dikisahkan sebagai putra dewa tertinggi Suksma Wisesa, berkelana mencari calon istri Perjiwati (yang kemudian berputra Darmagandul) keliling Jawa juga menjumpai berbagai ulama untuk mendebatkan metasifisika dan ajaran Islam. Misalnya ia menyatakan bahwa kita cukup shalat dalam hati, sambil menerangkan etimologi aneh tentang kata-kata Arab melalui bahasa Jawa, dan menentang Al Quran dengan menyatakan bahwa itu “kitab buatan luar negeri dan bukan buatan leluhur kita” (iku gaweyan wong sabrang, dudu tinggalane luri).

Sementara itu Darmogandul lebih berani lagi, menceritakan pengkhianatan Raden Patah, putra Raja terakhir Majapahit, yang menghancurkan Majapahit dan memasukan agama baru. Dalam Darmagandul, Syekh Siti DJenar adalah tokoh panutan, sementara para wali khususnya Sunan Bonang, sangat dibenci. Ada rasisme anti China yang sangat kentara di dalamnya, dimana orang China disamakan dengan para santri Islam dan dikategorikan dalam kaum yang dibenci masyarakat Jawa. Raden Patah dan para wali juga dipersalahkan karena keturunan China (tentang ini Silahkan baca-baca penelitian Slamet Muljana). Meski begitu Darmagandul tetap masih menghormati orang China yang dianggap tetap menghormati leluhurnya, daripada orang Jawa yang hanya menghormati orang Arab.

Masyarakat yang memihak ajaran-ajaran ini berkembang pesat di seantero Jawa, baik di lingkungan Kraton dan lebih banyak lagi di desa-desa. Berkembang menjadi aliran baru Islam yang luwes, misal dengan khotbah di masjid berbahasa Jawa, ritual dan sajen, pusaka.

Karena memang begitulah karakter budaya Jawa, bisa dicampur dengan yang baru, tapi tidak dengan menghilangkan yang sudah ada.

 

Rahayu,

*******

*Setelah Sultan Agung mengetahui bahwa musuhnya, Pangeran Banten mendapat gelar Sultan dari Mekah, ia bergegas mengirim utusan ke Arab. Utusan ini kembali tahun 1641, empat tahun sebelum raja mangkat dengan surat yang dinanti-nantikannya. Sejak itu sunan tersebut bergelar Sultan Agung.

*tata kota Yogyakarta setelah Perjanjian Giyanti 1755, dengan raja memerintah menghadap Utara sesuai dengan kosep kosmologi kuno Hindu, namun di sebelah baratnya dibangun Masjid Agung dan kauman.

*Dalam Darmagandul, para wali keturunan China dikonotasikan sebagai bangau putih, yang jambulnya diibaratkan dengankepang manchu

One Comment

  1. Aga wrote:
    Ketoke menarik nek nulis Jawa dr perspektif poskolonial mas dab. Menerapkan gagasane edward said tentang barat & timur, tp yg kita lihat barat bkn sebagai penjajah (kolonial)dan timur bukan sebagai yg dijajah (pribumi). Tapi dari konsep Jawa sebagai pusat (penjajah) dan di luar jawa sebagai wilayah yg pinggirkan, sehingga menimbulkan berbagai macam bentuk perlawanan. Bisa dilihat dr Gajah Mada dgn Hang Tuah (Jawa dgn Melayu), Airlangga dgn Calon Arang (Jawa dgn Bali) dsb. Josssss kuiiiii
    Sunday, July 13, 2014 at 6:10 pm | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*