Skip to content

Sekulerisme dari Yogyakarta (1)

Artikel berikut adalah ringkasan dari buku:

-          Denys Lombard. Nusa Jawa : Silang Budaya Jilid 2

referensi tambahan :

-          Dr. Peter Carey. Asal Usul Perang Jawa

-          Prof. Dr. Slamet Muljana. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara 

-          Serat Centhini, Suluk Gatoloco,dan Serat Darmagandul

 

Kita menuju ke era keemasan asimilasi religi di Yogyakarta, kira-kira abad 17-18 dimana pada saat itu di Kerajaan Mataram terdapat banyak sekali paham religi yang berusaha melebur satu sama lain untuk mencari bentuk baru yang diterima masyarakat. Islam sebagai kekuatan baru yang berkuasa, mau tidak mau harus “menyesuaikan” diri dengan adat dinasti raja sebelumnya, konsep “Hamengkubuwana” Raja sebagai poros dunia, serta menerima pemujaan terhadap sisa-sisa animisme yang masih harmonis dalam beberapa kebiasaan rakyat Mataram, pemujaan “Ratu Kidul” yang terwujud dalam bentuk peringatan dewi kesuburan yang diperistri sang raja.

Sultan Agung (1613-1645), raja ketiga dari dinasti Mataram Islam sangat menganut sinkretisme itu. Tahun 1633 beliau memperbarui penanggalan, dengan memutuskan menggunakan kalender bulan (354-355 hari/tahun), sehingga nantinya peringatan tradisional dapat diselaraskan dengan penanggalan Islam, dan tercipta penanggalan baru “tahun Jawa” yang rumit dan berselisih 78 tahun dengan Masehi (Lihat wikipedia,  tabel padanan kalender yang disusun Th. Pigeaud dalam kamusnya Jawa-Belanda).

Beliau jugalah yang memutuskan memilih bukit di Imogiri (Ing Maha Giri) sebagai makamnya, demi untuk menyempurnakan tradisi dan ritus kraton. Sejak saat itu, keturunan keluarga  raja Yogya dan Solo dimakamkan di situ, dengan ritus Islam, namun tatanannya mengikuti kedudukan almarhum di dalam dinasti.

Islam mengambil alih sistem kehidupan di Mataram dan berpadu dengan berbagai ritual lokal sebelumnya, namun keadaan itu menimbulkan masalah juga, munculah golongan “oposisi” yang bercorak religius, yang fanatis dan menolak pembauran Islam dengan budaya lokal Jawa. Beberapa gerakan pemberontakan terhadap kraton dengan tujuan pemurnian ajaran Islam muncul, gejolak terakhir khususnya Perang Jawa (1825-1830) yang mana kemungkinan Pangeran Diponegoro terpengaruh gagasan para Padri yg membawa benih-benih Wahabisme ke Sumatera Barat. Kita tahu bahwa Diponegoro sangat gemar berpakaian Arab, jubah dan turban. (Lihat wikipedia, Perang Padri).

Pada saat itu memang terjalin peningkatan hubungan dengan Arab. Banyak mahasiswa dikirim ke Mekah atau Kairo, jemaah haji dari Jawa makin banyak, para kyai belajar dan menetap di Arab, hal itulah yang membawa paham reformasi di lingkungan kerajaan Mataram, dengan tujuan mengajarkan Islam yang lebih “benar” sesuai apa yang dipelajari di Arab. Para reformis tersebut ingin menghapuskan unsur-unsur tradisi lokal yang penuh takhayul dan mistik. Puncaknya adalah pendirian Muhammadiyah tahun 1912 yang salah satu tujuannya membersihkan Islam dari segala “kotoran” (Lombard, 1990).

Para reformis itu menyerang kebiasaan pra Islam (makan sirih, sabung ayam) maupun bentuk sinkretis tidak sah yang diambil oleh Islam di budaya masyarakat Jawa. Ritus “abangan” dibersihkan dan diganti dengan fatwa-fatwa baru yang “murni”. Tradisi dzikir atau manakib diperbarui, debus sebagai ritual dicoret, dan yang paling mencolok adalah mulai timbulnya “mustaka” masjid berbentuk kubah yang diilhami dari disain masjid India dan Timur Tengah. Bedug untuk memanggil shalat, diganti dengan menara dan muazin. Musik terbang muncul di lingkungan masjid, dan orang Jawa mulai mengimpor kurma yang dimakan di hari Mulud.

Di bagian lain, akan dibahas pergerakan pemberontakan versi yang lain. Yaitu munculnya gerakan Anti Arab.

Rahayu,

*******

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*