Skip to content

Category Archives: Sejarah

Nama Keluarga Jawa

Waktu saya menasbihkan nama lahir anak pertama saya, beberapa orang mengusik saya dengan pertanyaan “kenapa tidak diberi nama belakang Raras Alit?”. Jawaban singkat dan sekenanya selalu saya lontarkan untuk menangkisnya, karena sebenarnya alasan saya cukup panjang, dan kiranya lebih enak dijelaskan sepeti ini : Anak saya 50% Jawa + 50% Palembang. Sesuai pemahaman saya, tidak […]

Mengapa Tidak Boleh Menikah di Bulan Sura?

[dengan segala kerendahan hati, tulisan ini bukanlah kesimpulan hasil pengamatan, hanyalah opini pribadi penulis berdasarkan sumber pustaka yang sedikit, dengan kajian yang dangkal] Banyak sekali penjelasan dan opini simpang-siur di masyarakat Jawa untuk jawaban pertanyaan di atas. Ada yang bilang, kalau bulan Sura itu yang boleh menikah hanyalah keluarga kraton, karena bulan istimewa, ada yang […]

Ratu Adil (2) – Pangeran Dipanegara

Konsep Ratu Adil terakhir ini hampir berhasil, dan telah mempengaruhi sebagian besar pulau Jawa, dan mampu menggerakkan  rakyat sesuai dengan pemikiran Dipanegara, melalui pergerakan Perang Jawa (1825-1830). Perang Jawa sendiri sebenarnya sudah lama direncanakan oleh Dipanegara, yang memang berniat melakukan pemberontakan terhadap kondisi yang ada pada saat itu di Jawa. Pemicu perang sudah mulai dirasakan […]

Ratu Adil (1)

Pada masa-masa suksesi pemimpin seperti ini, sering muncul istilah Ratu Adil, yang selalu dikaitkan dengan munculnya sosok baru yang ditakdirkan untuk membawa kebaikan, keselamatan dan perubahan, sesuai dengan mitos masyarakat. Tapi apakah sebenarnya Ratu Adil tersebut? Seperti biasanya, kami akan membahasnya dari sudut pandang sejarah. Ratu Adil adalah sebuah konsep yang sudah mengakar dalam pemikiran […]

Sekulerisme dari Yogyakarta (2)

Di bagian ini, akan dibahas sekulerisme versi yang lain. Yaitu munculnya gerakan kebalikan dari Arabisasi, dari para pendukung tatanan lama yang tidak tinggal diam. Terdapat sejumlah teks tembang Jawa, dari abad ke-19 yang mencerminkan penentangan ortodoksi Islam di Jawa. Yang paling masyur adalah Serat Centhini (1815), yang mengisahkan pengelanaan Syekh Amongrogo, keturunan Sunan Giri, yang […]

Sekulerisme dari Yogyakarta (1)

Artikel berikut adalah ringkasan dari buku: -          Denys Lombard. Nusa Jawa : Silang Budaya Jilid 2 referensi tambahan : -          Dr. Peter Carey. Asal Usul Perang Jawa -          Prof. Dr. Slamet Muljana. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara  -          Serat Centhini, Suluk Gatoloco,dan Serat Darmagandul   Kita menuju ke era keemasan asimilasi […]

Orang Jawa “Naik” Dari Tanah (2)

Setelah kita membahasa perabotan, sekarang kita lihat cara orang China saat membangun pecinan-pecinan di Jawa. Rombongan orang Eropa yang pertama mendarat di Banten pun mengagumi kualitas rumah-rumah di Pecinan, beserta tata letaknya. Dengan hadirnya Pecinan, bahkan sebelum masuknya arsitektur Eropa, masyarakat Jawa perkotaan belajar teknologi yang lebih maju tentang arsitektur rumah, di antaranya: –   […]

Orang Jawa “Naik” Dari Tanah (1)

“Nglempit Klasa”­ Kali ini kita bicarakan orang Jawa pada lingkup masyarakat umum, pribumi non kraton. Kondisi alam Jawa pada masa lalu masih rimbun dan hijau luas, masyarakat Jawa masih banyak yang tinggal di hutan, bahkan kota pun berbatasan langsung dengan hutan. Dikarenakan kondisi lokasi tersebut, muncul budidaya hasil hutan untuk pemenuhan hidup, diantaranya kebutuhan perabot […]

Jadi, Siapakah Leluhur Kita? – Yang Selalu Terbarukan (3)

Jawaban atas pertanyaan tersebut belum terlalu memuaskan sampai sekarang. Bagaimanakah muasal peradaban masyarakat Jawa? Siapakah yang pada awalnya menuliskan sejarah silsilah manusia Jawa ini? Setidaknya ada 3 kali proses pembaruan catatan silsilah kerajaan dan masyarakat Jawa, era Hindu, Islam, Eropa. Mari di uthek-uthek dari awal, mulai jaman invasi ras Arya yang berniat meng-India-kan pulau Jawa… […]

YANG SELALU TERBARUKAN (2)

ORANG JAWA MEMAKAI BAJU (banyak mengutip Denys Lombard, 1990) Pada relief-relief Hindu-Jawa, termasuk relief Majapahit, tergambarkan bahwa laki-laki dan perempuan pada zaman itu hanya mengenal kain lipat (selubung). Pemunculan pakaian yang pas, terutama pantalon dan kebaya, terjadi lambat laun sejak abad ke-15 sampai 16. Di situ terjadi transformasi budaya besar-besarnya saat awal bangkitnya masyarakat perkotaan, […]