Skip to content

Nama Keluarga Jawa

Waktu saya menasbihkan nama lahir anak pertama saya, beberapa orang mengusik saya dengan pertanyaan “kenapa tidak diberi nama belakang Raras Alit?”. Jawaban singkat dan sekenanya selalu saya lontarkan untuk menangkisnya, karena sebenarnya alasan saya cukup panjang, dan kiranya lebih enak dijelaskan sepeti ini :

Anak saya 50% Jawa + 50% Palembang. Sesuai pemahaman saya, tidak ada tradisi nama belakang keluarga ataupun marga dalam sistem kekerabatan tradisi kedua orang tuanya.

Di Jawa, tempat keluarga saya tinggal tidak pernah benar-benar muncul tradisi patronimik tersebut. Memang di masa lalu pernah ada era dimana nama keluarga adalah penegasan ciri keningratan seperti misal nama belakang Sastroatmojo, Prawirodimejo, Mangunkarto, dan lainnya. Kemudian muncul anggapan bahwa pengguna nama belakang tersebut ningrat, atau keturunan Raja. Bukan seperti itu menurut wawiwu.

SEJARAHNYA

Di Jawa sejak era Mataram Kuno-Hindu hingga era Mataram Islam saat ini, sebenarnya tidak pernah seorang raja atau trah keluarga raja memakai nama keluarga, kecuali nama gelar raja yang berkaitan dengan dinasti misal Hamengkubuwana, Pakubuwono, Amangkurat, dan lainnya. Tengok saja nama : Mpu Sindok, Ken Arok (Rajasa), Raden Wijaya Hayam Wuruk, Raden Patah, atau nama ningrat seperti Gadjah Mada, Tunggul Ametung, Pemanahan, tidak ada yang menggunakan nama belakang keluarga. Penggunaan nama belakang di Jawa seperti Sastroatmojo, Prawirodimejo, Mangunkarto, baru mulai menjadi trend pada abad 19 dan merupakan bawaan tradisi Kumpeni, bukan tradisi kerajaan. Begini latar belakangnya ;

Surname atau nama keluarga  adalah gagasan Napoleon Bonaparte yang baru saja menguasai Eropa untuk memudahkan pengaturan warga Eropa dalam hukum pada awal abad 19. Undang-undang Napoleon mewajibkan semua warga menemukan nama belakang keluarga, dan orang Yahudi diberi nama hewan. Aturan itu meliputi negeri Belanda yang juga takluk oleh Napoleon. Imbasnya hal tersebut juga berpengaruh ke Jawa, “ibukota” Hindia-Belanda, semua totok Belanda maupun indo-peranakan lalu menggunakan nama belakang. Trend tersebut juga diikuti oleh orang Jawa yang berkedudukan sebagai pejabat dan berpangkat seperti juru tulis pabrik gula, lurah, wedana, bupati, yang berkeinginan untuk menyejajarkan diri dengan budaya Eropa. Di sinilah golongan ningrat-pejabat muncul. Tapi bukan karena keturunan atau keluarga raja, tapi merupakan ningrat-pejabat yang diangkat oleh Belanda untuk menduduki jabatan administratif di pemerintahan Hindia Belanda. Maklum, sejak padamnya Perang Jawa (Dipanegara) Belanda mengatur hampir semua sistem pemerintahan dalam keraton-keraton di Jawa, hingga hampir semua pejabat struktural ditunjuk oleh Belanda.

Para pejabat pribumi pilihan Belanda inilah yang kemudian beramai-ramai mengganti namanya dan atau menyertakan nama belakang menggunakan nama-nama dari bahasa Sansekerta atau Jawa kuna yang berkesan ningrat sesuai keahlian pekerjaanya. Misal juru tulis Belanda yang semula Jumadi, ditambahi Sastroutomo (menguasai sastra), pejabat tentara menjadi Prawiroharjo, yang pejabat tata kota menjadi Mangunkarto, dan banyak lainnya. Penambahan nama belakang ini bahkan melalui pengesahan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Kaum jelata dan tani tidak berhak menggunakan nama beken seperti para pejabat pribumi pegawai Belanda tersebut, yang namanya Giman, Sanikem, Sartinah, Paijo, ya tetap begitu adanya.

Trend nama belakang berbau feodal tersebut pada akhirnya surut selepas kemerdekaan RI, dan berangsur hilang. Pengaruh Islam (bin, binti) juga pernah muncul sebagai trend nama belakang di Jawa walaupun akhirnya hanya disebut dalam upacara misalnya perkawinan Islam di Jawa.

Memang berbeda dengan sistem kekerabatan di beberapa daerah di Indonesia dimana nama marga sangat kuat, misal Batak, atau keturunan Cina dengan marga mereka, serta nama belakang para famili arab, Asyegaf, Habibi, Syihab, dan lainnya, Jawa tidak pernah benar-benar mempunyai tradisi budaya nama belakang.

Belakangan ini di era internet muncul kembali trend nama belakang barat di Indonesia, sehingga banyak orang menjadi patronimik dalam identitasnya, dan dalam menamai anaknya. Ya monggo saja, bebas, namun ya uraian saya di atas sekiranya menjawab pertanyaan mengapa anak saya tidak disertai nama belakang keluarga, lha wong tradisi ibunya Palembang tidak ada marga, dan bapaknya juga cuma Jawa jelata yang tidak berhak memakai nama belakang keluarga.

Rahayu

*******

Mengapa Tidak Boleh Menikah di Bulan Sura?

[dengan segala kerendahan hati, tulisan ini bukanlah kesimpulan hasil pengamatan, hanyalah opini pribadi penulis berdasarkan sumber pustaka yang sedikit, dengan kajian yang dangkal]

Banyak sekali penjelasan dan opini simpang-siur di masyarakat Jawa untuk jawaban pertanyaan di atas. Ada yang bilang, kalau bulan Sura itu yang boleh menikah hanyalah keluarga kraton, karena bulan istimewa, ada yang bilang kalau bulan Sura itu malati, dan banyak sekali yang lainnya. Wawiwu akan ikut menyumbang versi jawaban, sekedar untuk bacaan saja dan jangan diacu untuk apapaun, karena sangat lemah kadar ilmiahnya.

Berawal dari Masuknya Islam ke Jawa

Bulan Sura atau bulan Muharram tentunya berkaitan sangat erat dengan budaya Islam yang masuk ke Jawa. Seperti di beberapa artikel wawiwu sebelumnya dijelaskan bahwa proses masuknya budaya Islam ke Jawa berlangsung bertahap berabad-abad dengan berbagai jalur, berbagai mazhab, dan berbagai kepentingan, proses akulturasinya pun bercampur aduk dengan budaya-budaya yang sudah ada maupun dengan budaya baru yang datang kemudian. Latar belakang ini kiranya yang akan dipaparkan penulis untuk menjawab judul artikel ini.

Slamet Muljana mencatat bahwa Islam yang masuk pertama kali di Nusantara adalah Islam aliran syiah, dan terdokumentasi di Peureulak Aceh, sebelum berkembang ke Samudra Pasai, dan merambah ke Jawa dan berbagai tempat di Nusantara. Pada perkembangannya memang Islam sunni yang akhirnya mendominasi Nusantara, dengan berbagai macam gejolak dinamika politik (termasuk perang Padri) yang mengikutinya, aliran syiah ini tidak serta merta hilang dari peredaran, dan beberapa ajarannya malah bercampur dengan apa yang ada sekarang dan menjadi ciri yang baru di Jawa, seperti ziarah makam, kenduren, yasinan, dan lainnya. Serapan-serapan ajaran syiah itulah yang menurut penulis juga mempengaruhi tradisi pengkultusan bulan Muharram, sehingga masih banyak masyarakat Jawa yang tidak menggelar hajatan di bulan Sura.

Dalam sejarah kemunculan syiah yang diawali dengan perebutan warisan imperium Islam antar khalifah pasca Muhammad, munculah kaum pengikut Ali bin Abu Thalib (sepupu dan menantu Muhammad) yang berpandangan bahwa kekuasaan Islam seharusnya diwariskan pada keturunan genetis Muhammad. Setelah wafatnya Ali, aliran ini diteruskan oleh putranya Hasan dan Husein yaitu cucu Muhammad dari perkawinan Ali dengan Fatimah. Sebuah konflik sejarah menuliskan bahwa Husein meninggal dalam peperangan di Karbala, pada tanggal 10 Muharram. Kematian cucu Muhammad tersebut dianggap bencana besar oleh golongan syiah, dan peringatannya kematian Husein masih dirayakan sebagai hari besar kematian pahlawan syiah sampai saat ini di beberapa negara, dengan menganggap 1o hari pertama di bulan Muharram adalah hari berkabung, tidak melakukan kegiatan yang bersenang-senang, dan pada jaman dahulu di beberapa daerah di Timur Tengah para wanita memperingatinya dengan bersedih menangis selama sepuluh hari untuk menangisi kematian Husein. Ada yang menyebut peringatan tersebut sebagai Hari Asyura (Sura), walaupun ada yang menyatakan juga bahwa Hari Asyura ini sudah diperingati dalam budaya Yahudi pra Islam, (penulis tidak mengkaji sampai ke sana) dan diperingati dengan berbagai ritual, antara lain puasa tanggal 10 Muharram, karnaval sambil berduka memukul-mukul dada dan menyiksa diri sebagai simpati kematian Husen. Hal tersebut rupanya juga masuk ke tradisi Islam awal di Nusantara, dengan adanya peringatan serupa di beberapa daerah di Sumatera dan beberapa di Jawa dan juga pembuatan bubur sura (silahkan browsing tentang bubur sura ini). Di melayu kisah ini ditulis dalam karya sastra Hikayat Hasan Husen.

Rupanya, anggapan tentang bulan Sura sebagai bulan duka tersebut, berakulturasi dalam perkembangan Kerajaan Mataram Islam yang pada awalnya sejarahnya memang “kedatangan” berbagai mazhab Islam dari segala penjuru, dan berbaur dengan padu sehingga menimbulkan karakter baru seperti saat ini, yang sering disebut para ahli sebagai Islam Jawa, dengan Kraton sebagai pusarnya.

Sekali lagi, tanpa ada maksud untuk menguraikan tentang agama, penulis hanyalah lulusan kuliah yang mempelajari tentang sejarah kebudayaan Jawa, jadi kiranya sudut pandang dalam tulisan ini adalah sejarah saja.

Rahayu,

*******

Ratu Adil (2) – Pangeran Dipanegara

Konsep Ratu Adil terakhir ini hampir berhasil, dan telah mempengaruhi sebagian besar pulau Jawa, dan mampu menggerakkan  rakyat sesuai dengan pemikiran Dipanegara, melalui pergerakan Perang Jawa (1825-1830). Perang Jawa sendiri sebenarnya sudah lama direncanakan oleh Dipanegara, yang memang berniat melakukan pemberontakan terhadap kondisi yang ada pada saat itu di Jawa.

Pemicu perang sudah mulai dirasakan saat pendudukan Kraton oleh Inggris (1812), disusul kemudian Raffles yang membentuk kerajaan “keempat” di Jawa, yaitu Kraton Pakualaman untuk HB II yg pro Eropa. Peristiwa tersebut menimbulkan kekesalan besar Dipanegara, ditambah juga setelah Inggris digantikan lagi oleh Belanda, Kraton tetap saja “dibawah” pengaruh Belanda. Pemicu lain adalah perselingkuhan selir Dipanegara dengan Asisten Residen Chevallier, dan juga kisah populer yang kita kenal dari buku sejarah sekolah tentang pelebaran jalan di sekitar ibukota Jogja oleh Residen Smissaert yang mencaplok tanah leluhur Dipanegara, disertai kisah ndhupak tembok Tegalrejo oleh Dipanegara dan kudanya, Gagak Rimang, saat usaha penangkapan Dipanegara pertama kali.

Hal-hal tersebutlah yang memicu pemberontakan Dipanegara kepada Kraton (dan Belanda) serta menimbulkan perang Jawa di sebagian besar pulau Jawa. Untuk dapat memperoleh dukungan rakyat Jawa, Dipanegara memunculkan konsep Ratu Adil dalam gerakannya, serta dengan sengaja ‘membelokkan’ perang pemberontakan ini sebagai perang sabil, semacam perang padri. Hal ini disengaja untuk memperoleh bantuan dari rakyat yang pada saat itu mayoritas Islam dan berada di pesantren-pesantren desa di bawah kepemimpinan kyai, ulama, haji, salah satu yang terkenal adalah Kyai Maja. Alhasil rakyat terpikat dengan jihad Dipanegara memerangi Belanda yang dianggap kafir, dan juga etnis Cina yang karena alasan kecemburuan sosial, dijadikan musuh juga dalam padri Dipanegara. Memang Dipanegara mempunyai latar belakang kegemaran besar terhadap Kesultanan Ottoman di Turki, sehingga kesatuan-kesatuan armada Dipanegara pun dinamai mirip, seperti Bulkio, Turkio, Arkio, dan lainnya. Di samping itu, strategi menjadikan perang ini sebagai jihad Islam, benar-benar jitu untuk berhasil menggerakkan rakyat Jawa pada saat itu.

Sayangnya pergerakan Ratu Adil tersebut terlalu singkat bertahan di Jawa dan berakhir setelah ditumpasnya Dipanegara. Namun konsep tentang tokoh ratu Adil telah begitu mendarah daging dan diwariskan turun-turun di masyarakat Jawa, dan bahkan meluas ke seantero Nusantara, sehingga angan-angan tersebut selalu muncul setiap kali rakyat berada dalam situasi pergantian raja atau pemimpin, seperti saat ini.

 

Rahayu,

*******

Diambil dari berbagai sumber :

- Asal-Usul Perang Jawa : Peter Carey

- Sanskrit Grammar and Sanskrit Dictionary : A.A. MacDonell

- Nusa Jawa Silang Budaya : D. Lombard

- Catatan materi kuliah

Ratu Adil (1)

Pada masa-masa suksesi pemimpin seperti ini, sering muncul istilah Ratu Adil, yang selalu dikaitkan dengan munculnya sosok baru yang ditakdirkan untuk membawa kebaikan, keselamatan dan perubahan, sesuai dengan mitos masyarakat. Tapi apakah sebenarnya Ratu Adil tersebut? Seperti biasanya, kami akan membahasnya dari sudut pandang sejarah.

Ratu Adil adalah sebuah konsep yang sudah mengakar dalam pemikiran masyarakat Jawa sejak ratusan tahun yang lalu. Konsep tentang tokoh ini dibawa dari India melalui kebudayaan Hindu yang masuk ke Jawa. Dalam tradisi Vedic Hindu, terdapat sebuah konsep tentang sosok juru selamat dunia, yang berwujud dalam peristiwa Avatar. Tentu bukan avatar seperti yang kita kenal dalam film makhluk biru itu, ataupun avatar tokoh kartun Nickelodeon itu.

Dari kata sansekerta ‘tar’­ yang berarti menyeberang /melintas, Avatar secara harfiah adalah perjalanan menyeberang Dewata dari dunia Dewa, ke dunia manusia, dan dunia bawah (konsep tribhuwana Hindu), untuk mensucikan kembali alam semesta, atau kemudian kita kenal dengan nama inkarnasi. Avatar adalah proses inkarnasi dalam tradisi Hindu yang terjadi di akhir jaman Kali Yuga, yaitu sebuah perhitungan siklus waktu menurut tradisi Veda (silahkan browsing lebih lanjut tentang ini). Jaman Kali Yuga adalah jaman akhir dari suatu siklus untuk kembali lagi ke jaman Yuga awal, dan biasanya akan melewati fase kehancuran alam, mirip dengan konsep kiamat yang kita kenal. Pada setiap akhir zaman tersebut, akan muncul ke dunia sosok inkarnasi avatar. Sudah beberapa kali terjadi proses avatar dalam tradisi tersebut, dan masih akan terjadi lagi selanjutnya, salah satu yang paling populer yang kita kenal adalah munculnya Krishna dalam kisah Mahabharata, dan Sri Rama dalam kisah Ramayana. Kedua tokoh tersebut merupakan inkarnasi dewa yang datang untuk menyelamatkan bumi

Konsep avatar tersebut ternyata telah menjadi kepercayaan kuat dalam budaya Jawa, dan juga ditambah lagi dengan masuk budaya dari Timur Tengah, yang entah mengapa juga mempunyai konsep ‘mesias-juru selamat’ yang setipe dengan konsep avatar Hindu sebelumnya di Jawa. Masuknya paham tentang Isa sebagai Juru Selamat (baik Islam mapupun Nasrani), serta masuknya konsep Imam Mahdi dari paham Mahdistik. Konsep-konsep tersebut semakin menebalkan kepercayaan masyarakat tentang datangnya Ratu Adil untuk mengentaskan mereka dari kehidupan yang kacau. Dari peradaban manapun di masa apapun, karakteristik sosial masyarakat yang selalu merasa sengsara, berdosa, kekurangan, mengeluh, selalu terbentuk dalam keseharian kehidupan manusia. Oleh karena itu figur juru selamat akan sangat mudah mengambil peran dalam karakter masyarakat tersebut.

Di Jawa, konsep savior yang telah menjadi buah pikiran dan meluas tersebut pernah dibangkitkan dengan pergerakan yang hampir saja sukses. Adalah Pangeran Dipanegara yang memunculkan konsep ratu adil ini, dan bahkan mengangkat dirinya sendiri dengan gelar erucakra (nama Jawa dari Ratu Adil), panatagama, utusan rasul dan lainnya. Sehingga rakyat pun percaya Pangeran trah Kraton Jogja tersebut, dan setia mengikutinya

(bersambung)

Sekulerisme dari Yogyakarta (2)

Di bagian ini, akan dibahas sekulerisme versi yang lain. Yaitu munculnya gerakan kebalikan dari Arabisasi, dari para pendukung tatanan lama yang tidak tinggal diam. Terdapat sejumlah teks tembang Jawa, dari abad ke-19 yang mencerminkan penentangan ortodoksi Islam di Jawa. Yang paling masyur adalah Serat Centhini (1815), yang mengisahkan pengelanaan Syekh Amongrogo, keturunan Sunan Giri, yang diusir dari wilayahnya oleh pasukan Sultan Agung, dan selanjutnya mengembara ke seluruh pelosok Jawa untuk menemui satu persatu pertapa dan orang-orang  bijak. Setiap pertemuan tersebut adalah perdebatan pokok bahasan agama, yang bisa dikatakan ensiklopedi Jawaisme. Syekh Amongrogo tidak hanya memusuhi Islam yang menjadi agama negara Mataram, tapi juga segala macam “reformasi arabisasi”. Kita akan bahas Centhini panjang lebar kelak suatu hari nanti.

Kemudian pengungkapan pemberontakan lebih jelas lagi adalah Suluk Gatoloco (1830) dan Serat Darmagandul (1879). Tokoh Gatoloco (Gato, “penis) adalah gatra dari pemujaan “lingga” dalam tradisi pra-Islam. Gatoloco dikisahkan sebagai putra dewa tertinggi Suksma Wisesa, berkelana mencari calon istri Perjiwati (yang kemudian berputra Darmagandul) keliling Jawa juga menjumpai berbagai ulama untuk mendebatkan metasifisika dan ajaran Islam. Misalnya ia menyatakan bahwa kita cukup shalat dalam hati, sambil menerangkan etimologi aneh tentang kata-kata Arab melalui bahasa Jawa, dan menentang Al Quran dengan menyatakan bahwa itu “kitab buatan luar negeri dan bukan buatan leluhur kita” (iku gaweyan wong sabrang, dudu tinggalane luri).

Sementara itu Darmogandul lebih berani lagi, menceritakan pengkhianatan Raden Patah, putra Raja terakhir Majapahit, yang menghancurkan Majapahit dan memasukan agama baru. Dalam Darmagandul, Syekh Siti DJenar adalah tokoh panutan, sementara para wali khususnya Sunan Bonang, sangat dibenci. Ada rasisme anti China yang sangat kentara di dalamnya, dimana orang China disamakan dengan para santri Islam dan dikategorikan dalam kaum yang dibenci masyarakat Jawa. Raden Patah dan para wali juga dipersalahkan karena keturunan China (tentang ini Silahkan baca-baca penelitian Slamet Muljana). Meski begitu Darmagandul tetap masih menghormati orang China yang dianggap tetap menghormati leluhurnya, daripada orang Jawa yang hanya menghormati orang Arab.

Masyarakat yang memihak ajaran-ajaran ini berkembang pesat di seantero Jawa, baik di lingkungan Kraton dan lebih banyak lagi di desa-desa. Berkembang menjadi aliran baru Islam yang luwes, misal dengan khotbah di masjid berbahasa Jawa, ritual dan sajen, pusaka.

Karena memang begitulah karakter budaya Jawa, bisa dicampur dengan yang baru, tapi tidak dengan menghilangkan yang sudah ada.

 

Rahayu,

*******

*Setelah Sultan Agung mengetahui bahwa musuhnya, Pangeran Banten mendapat gelar Sultan dari Mekah, ia bergegas mengirim utusan ke Arab. Utusan ini kembali tahun 1641, empat tahun sebelum raja mangkat dengan surat yang dinanti-nantikannya. Sejak itu sunan tersebut bergelar Sultan Agung.

*tata kota Yogyakarta setelah Perjanjian Giyanti 1755, dengan raja memerintah menghadap Utara sesuai dengan kosep kosmologi kuno Hindu, namun di sebelah baratnya dibangun Masjid Agung dan kauman.

*Dalam Darmagandul, para wali keturunan China dikonotasikan sebagai bangau putih, yang jambulnya diibaratkan dengankepang manchu

Sekulerisme dari Yogyakarta (1)

Artikel berikut adalah ringkasan dari buku:

-          Denys Lombard. Nusa Jawa : Silang Budaya Jilid 2

referensi tambahan :

-          Dr. Peter Carey. Asal Usul Perang Jawa

-          Prof. Dr. Slamet Muljana. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara 

-          Serat Centhini, Suluk Gatoloco,dan Serat Darmagandul

 

Kita menuju ke era keemasan asimilasi religi di Yogyakarta, kira-kira abad 17-18 dimana pada saat itu di Kerajaan Mataram terdapat banyak sekali paham religi yang berusaha melebur satu sama lain untuk mencari bentuk baru yang diterima masyarakat. Islam sebagai kekuatan baru yang berkuasa, mau tidak mau harus “menyesuaikan” diri dengan adat dinasti raja sebelumnya, konsep “Hamengkubuwana” Raja sebagai poros dunia, serta menerima pemujaan terhadap sisa-sisa animisme yang masih harmonis dalam beberapa kebiasaan rakyat Mataram, pemujaan “Ratu Kidul” yang terwujud dalam bentuk peringatan dewi kesuburan yang diperistri sang raja.

Sultan Agung (1613-1645), raja ketiga dari dinasti Mataram Islam sangat menganut sinkretisme itu. Tahun 1633 beliau memperbarui penanggalan, dengan memutuskan menggunakan kalender bulan (354-355 hari/tahun), sehingga nantinya peringatan tradisional dapat diselaraskan dengan penanggalan Islam, dan tercipta penanggalan baru “tahun Jawa” yang rumit dan berselisih 78 tahun dengan Masehi (Lihat wikipedia,  tabel padanan kalender yang disusun Th. Pigeaud dalam kamusnya Jawa-Belanda).

Beliau jugalah yang memutuskan memilih bukit di Imogiri (Ing Maha Giri) sebagai makamnya, demi untuk menyempurnakan tradisi dan ritus kraton. Sejak saat itu, keturunan keluarga  raja Yogya dan Solo dimakamkan di situ, dengan ritus Islam, namun tatanannya mengikuti kedudukan almarhum di dalam dinasti.

Islam mengambil alih sistem kehidupan di Mataram dan berpadu dengan berbagai ritual lokal sebelumnya, namun keadaan itu menimbulkan masalah juga, munculah golongan “oposisi” yang bercorak religius, yang fanatis dan menolak pembauran Islam dengan budaya lokal Jawa. Beberapa gerakan pemberontakan terhadap kraton dengan tujuan pemurnian ajaran Islam muncul, gejolak terakhir khususnya Perang Jawa (1825-1830) yang mana kemungkinan Pangeran Diponegoro terpengaruh gagasan para Padri yg membawa benih-benih Wahabisme ke Sumatera Barat. Kita tahu bahwa Diponegoro sangat gemar berpakaian Arab, jubah dan turban. (Lihat wikipedia, Perang Padri).

Pada saat itu memang terjalin peningkatan hubungan dengan Arab. Banyak mahasiswa dikirim ke Mekah atau Kairo, jemaah haji dari Jawa makin banyak, para kyai belajar dan menetap di Arab, hal itulah yang membawa paham reformasi di lingkungan kerajaan Mataram, dengan tujuan mengajarkan Islam yang lebih “benar” sesuai apa yang dipelajari di Arab. Para reformis tersebut ingin menghapuskan unsur-unsur tradisi lokal yang penuh takhayul dan mistik. Puncaknya adalah pendirian Muhammadiyah tahun 1912 yang salah satu tujuannya membersihkan Islam dari segala “kotoran” (Lombard, 1990).

Para reformis itu menyerang kebiasaan pra Islam (makan sirih, sabung ayam) maupun bentuk sinkretis tidak sah yang diambil oleh Islam di budaya masyarakat Jawa. Ritus “abangan” dibersihkan dan diganti dengan fatwa-fatwa baru yang “murni”. Tradisi dzikir atau manakib diperbarui, debus sebagai ritual dicoret, dan yang paling mencolok adalah mulai timbulnya “mustaka” masjid berbentuk kubah yang diilhami dari disain masjid India dan Timur Tengah. Bedug untuk memanggil shalat, diganti dengan menara dan muazin. Musik terbang muncul di lingkungan masjid, dan orang Jawa mulai mengimpor kurma yang dimakan di hari Mulud.

Di bagian lain, akan dibahas pergerakan pemberontakan versi yang lain. Yaitu munculnya gerakan Anti Arab.

Rahayu,

*******

Teka-Teki Pujangga

Teka-Teki Pujangga

Samar. Dunia sastra gempar saat pseudonim J.K Rowling terungkap.

Nama samaran adalah bagian tak terpisahkan dari bidang tulis menulis dan terkadang lebih populer daripada nama asli si pengarang karya sastra. Jika anda familier dengan kesusastraan, nama Mark Twain dan Remy Sylado adalah contoh 2 pujangga yang lebih dikenal nama penanya.

Bagaimana dengan Sastra Jawa? ternyata ada juga samar-menyamar identitas sastrawan. Kita akan mengulas 2 orang pujangga sastra Jawa paling kondang, yaitu Mpu Prapanca (era Jawa Kuna), dan R.N Ranggawarsita (Jawa modern), yang mempunyai karakter “teknik penyamaran” berbeda.

Mpu Prapanca

Salah satu karya Prapanca yang mengagungkan namanya adalah Negarakertagama, sekitaran era Majapahit. Untuk lebih detail tentang Negarakertagama silahkan ke wikipedia.

Pujangga Jawa klasik ini menggunakan sanepa (teka-teki) sebagai tabir identitasnya, dan baru berhasil terungkap di abad 20 (setelah sekitar 6 abad sejak penulisannya), melalui perdebatan panjang hasil penelitian para Profesor Sastra Jawa seperti Kern, Krom, Poerbatjaraka, Slamet Muljana, Juynboll, Pigeaud, yang kesemuanya sudah almarhum, sehingga kajian tentang Mpu Prapanca belum terselesaikan dengan tuntas.

Inilah beberapa clue teka-teki identitas Prapanca, yang dengan sengaja ia sertakan dalam isi karya Negarakertagama, dengan permainan kata dan arti samar.

-          Dalam teks Negarakertagama, dia mengungkap bahwa penulis ‘maparab Prapanca’ artinya ia punya paraban (nama olok-olok) Prapanca.

-          Beberapa analisa sanepa : ‘Prapanca’ berarti ‘rintangan, penghalang, penyesat’, adalah sindiran situasi politik pada saat itu di Majapahit, di mana sedang terjadi clash antara penganut Siwa dan Buddha. Prapanca menuliskan bahwa ia adalah seorang pemimpin agama Buddha resmi kerajaan yang saat itu seolah ‘disingkirkan’ karena diaggap sebagai ‘perintang, penyesat’ dari kerajaan yang lebih pro Siwa/Hindu. Dalam karyanya yang lain, Prapanca memakai pseudonim Mpu Dusun, untuk menggambarkan bahwa dia adalah pujangga yang bertempat tinggal di dusun, karena terusir dari kraton.

-          Hipotesa lain berdasarkan sanepa kata ‘Pancaksara’ (yang juga disebutkan oleh Prapanca dalam satu bagian teks negarakertagama), yang diartikan oleh Kern sebagai ‘5 aksara’, dan dibantu penelitian silsilah struktur pejabat dan sejarah kerajaan Majapahit, disimpulkan oleh Prof. Slamet Muljana bahwa Kanakamuni (Ka-Na-Ka-Mu-Ni, 5 aksara/suku kata) adalah pemimpin besar Buddha pada era yang dimaksud dalam teka-teki pengarang, yang tak lain kemudian ‘menyamar’ sebagai Mpu Prapanca

 

Raden Ngabei Ranggawarsita

Pujangga kraton Surakarta yang tersohor. Beliau juga sering membuat teka-teki dalam karyanya, dengan permainan kata yang disebut Sandiasma. Coba cermati huruf bold dan underline dalam beberapa karyanya dibawah ini

rarasing kang sekar sarkara mrih

den aksama dening sudyarsa

ngawikani wengkuning reh

beraweng para ratu

ilanga kang sesangker sarik

rongas westhining angga

gagating tyas antuk

wartaning kang parotama

sinung tengran sembah trus sukaning budi

tataning kang carita

—–

Contoh lain :

Dalam karyanya ‘Kalatidha’ : “…borong angga sawarga mesi martaya”

 

Yang lebih susah, Ranggawarsita pakai nama gelar/nama julukannya :

lir brataning reksi wara

micara reh sadu budi

marsudi mrih dipaning tyas

memenget mring pra taruni

wit jroning jaman mangkin

keh rubeda sumarawung

yen limut rasikeng tyas

korup mring reh karya sisip

temah sirna talering titah utama

= Reksa dipraja Surakarta (penjaga/abdi dalem kraton Surakarta)

 

Entah apa tujuan dan latar belakang yang sebenarnya dari para pujangga. Mereka selalu saja mendahului pikiran pembacanya

 

 

Rahayu,

*******

 

 

Orang Jawa “Naik” Dari Tanah (2)

Setelah kita membahasa perabotan, sekarang kita lihat cara orang China saat membangun pecinan-pecinan di Jawa.

Rombongan orang Eropa yang pertama mendarat di Banten pun mengagumi kualitas rumah-rumah di Pecinan, beserta tata letaknya. Dengan hadirnya Pecinan, bahkan sebelum masuknya arsitektur Eropa, masyarakat Jawa perkotaan belajar teknologi yang lebih maju tentang arsitektur rumah, di antaranya:

-          Rumah orang Jawa yang sebelumnya beralas tanah dan tidak higienis, China memperkenalkan ubin (dari kata ­you-mian yang dilafalkan yiubbin, lalu lidah Jawa bilang ‘njubin‘)

-          Tembok, dan atap dari genting.

-          ‘Loteng’ : dari lou-ding (dilafalkan lao-ding),  memungkinkan untuk menahan panas ruangan dan mengisolasi lantai dasar. Kadang digunakan tidur pada malam hari.

-          ‘Cat’, teknik mewarnai tembok juga berasal dari China

-          ‘Engkah’ (lem kayu), dan juga gincu.

Arsitektur rumah Pecinan juga memberi sumbangan teknis besar dengan hadirnya kebun/taman di rumah. Mereka berusaha menata ruang rumahnya dengan konsepsi-kebun mikrokosmos tertentu. Alam, dijinakkan dan dihadirkan di dalam rumah, lazimnya dalam bentuk tanaman perdu dalam pot, kandang burung dan aquarium.

Kemudian yang terakhir adalah sumbangsih teknologi keramik, yang sampai saat ini masih menjadi barang yang sangat bernilai.

 

Rahayu,

*******

Orang Jawa “Naik” Dari Tanah (1)

“Nglempit Klasa”­

Kali ini kita bicarakan orang Jawa pada lingkup masyarakat umum, pribumi non kraton.

Kondisi alam Jawa pada masa lalu masih rimbun dan hijau luas, masyarakat Jawa masih banyak yang tinggal di hutan, bahkan kota pun berbatasan langsung dengan hutan. Dikarenakan kondisi lokasi tersebut, muncul budidaya hasil hutan untuk pemenuhan hidup, diantaranya kebutuhan perabot rumah tangga yang kemudian menghasilkan teknologi ‘anyaman’, seperti keranjang, gedheg, bleketepe, dan yang akan jadi fokus di sini, tikar.

Tikar menjadi bagian hidup orang Jawa saat itu dan masih lestari sampai saat ini. Di desa-desa jaman sekarang, orang makan, tidur, ngobrol, sembahyang, rapat, njagong manten, layat,  gojeg, ronda, pacaran, judi, bahkan mancing ikan pun dilakukan di atas tikar. Di situ, kita masih melakukan aktifitas sehari-hari dengan cara nglemprak (duduk menempel) di tanah.

Pada abad 16-17, datanglah secara sporadis orang China ke kota-kota pesisir Utara Jawa. Sebagian dari mereka adalah para ahli kayu. Mereka berbaur dengan masyarakat Jawa, memperkenalkan teknologi mebel dan furniture dari kayu.

Kemudian masyarakat kota mengenal meja,kursi, katil/dipan/tempat tidur, almari. Orang perkotaan menerima perabotan yang pada saat itu dianggap sebagai ukuran kesantunan dan kesopanan, dan menaikkan status sosial dengan memilikinya. Orang Jawa mulai “naik” dari tanah, dan meninggalkan tikar serta menggantinya dengan furniture kayu yang dibuat dan dijual oleh para tukang kayu pendatang itu. Nilai tata krama orang Jawa telah terbarukan dengan datangnya perabotan asing.

Mekipun begitu, tak satupun perbendaharaan kata perabot-perabot tersebut yang menggunakan bahasa China. Kursi dari bahasa Arab, katil (Tamil) yang lebih dikenal dengan ‘tempat tidur’, meja dan lemari dari bahasa Portugis.

Sejak itu posisi tikar yang boleh dikatakan karya ‘masyarakat hutan’ Jawa semakin terpinggirkan, dan seolah hanya dipakai oleh ‘masyarakat kelas bawah’, meskipun terdapat beberapa fungsi yang tidak bisa digantikan oleh perabot kayu.

__________________________________________

–Catatan kaki—

Seorang tokoh yaitu Kyai Telingsing, makamnya di Kudus, di kampung Sunggingan, yang artinya “wilayah tukang kayu”. Kyai tersebut asalnya dari China, bernama The Ling Sing. Ia hidup dan menjadi sahabat Sunan Kudus, sekaligus bertanggung jawab dalam penyebaran kerajinan kayu di daerah Gunung Muria, tidak hanya Kudus, tapi juga di Jepara, dimana tradisi kayu di sana masih berjaya sampai sekarang.

Bersamaan dengan gelombang pendatang China di Jawa, masuk pula para ahli kayu dan ukir, yang warisannya pada arsitektur dan ukiran hias masih nampak di klenteng-klenteng, perabot rumah meja tinggi, dingklik berkaki melengkung keluar, kursi dengan handrest dan sandaran melengkung, tempat tidur bertiang dan berkelambu, motif ukiran naga,kuda sembrani, swastika.

 

Rahayu,

*******

Jadi, Siapakah Leluhur Kita? – Yang Selalu Terbarukan (3)

Jawaban atas pertanyaan tersebut belum terlalu memuaskan sampai sekarang. Bagaimanakah muasal peradaban masyarakat Jawa? Siapakah yang pada awalnya menuliskan sejarah silsilah manusia Jawa ini?

Setidaknya ada 3 kali proses pembaruan catatan silsilah kerajaan dan masyarakat Jawa, era Hindu, Islam, Eropa. Mari di uthek-uthek dari awal, mulai jaman invasi ras Arya yang berniat meng-India-kan pulau Jawa…

- Kita awali dengan legenda Aji Saka. Alkisah Aji Saka adalah seorang putra brahmana yang datang dari Jambudvipa (India) tepatnya daerah Shaka (King of Shaka). Konon pada saat kedatangaan Aji Saka ke Jawa, dia berperang mengalahkan pasukan raksasa di Jawa pimpinan Dewata Cengkar. Setelah semua raksasa dikalahkan, kemudian dia menjadi raja di Medang Kamulan (dekat Puwodadi), dan menjadi raja pertama yang menguasai tanah Jawa.

Ceritanya, Aji Saka kemudian menciptakan aksara Jawa, dan membuat perhitungan tarikh penanggalan baru, yang dinamai tahun Saka. Dan kerajaan pertama di jawa serta peradabannya dimulai dari kedatangan Aji Saka.

Aji Saka = simbol invasi bangsa Arya(???)

Dewata Cengkar = pribumi jawa(???)

- Lalu ada lagi tafsir Indianisasi dari naskah Tantu Panggelaran abad 16 (naskah ini banyak diburu oleh orang yg belajar ngelmu dukun, karena berisi petunjuk lokasi pertapaan-pertapaan ampuh di Jawa). Di sini diceritakan asal mula Siva (Bhatara Guru) pergi ke Dieng untuk semedi dan meminta Brahma serta Wisnu menciptakan penghuni di Jawa. Brahma menciptakan laki-laki dan Wisnu perempuan. Lalu semua Dewa dari India pindah boyongan ke Jawa dan sekalian memindahkan markasnya-gunung Meru dari India ke Jawa, ke gunung Penanggungan.

- Ketiga, Indianisasi dengan menciptakan kembali geografi India ke Jawa melalui cara mutasi nama tempat-tempat di India dari bahasa Sansekerta ke Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lihat peta yang ada dalam buku Raffles “History of Jawa” di bawah ini. (maaf kalau scanningnya kurang bagus)

002

001

—–

Kemudian datanglah Islam ke Jawa, yang mengakibatkan terjadinya proses pembaruan besar-besaran dalam penulisan sejarah silsilah Jawa. Tokoh-tokoh Islam masuk berdesak-desakan dengan para leluhur Hindu yang sudah kebacut jadi nenek moyang orang Jawa selama berabad-abad. Pada babad-babad pasca Islam (silahkan baca Babad Tanah Jawi, yang paling populer), kisah nabi-nabi dari Al-Quran dibaurkan dengan silsilah dewa dan satria Veda. Nanti akan ketemu bahwa orang Jawa itu keturunan Nabi Adam + Bhatara Siwa + Arjuna + Nabi Muhammad.

Silsilah yang modhal-madhul di atas menjadi populer dan diterima di Jawa, para leluhur gabungan nabi dan pandawa tersebut dipercaya, dihormati, disembah, ditempatkan posisinya suci “di atas sana”.

Tiba-tiba semua berubah lagi. Saat para leluhur tenang-tenang bersemayam di atas sana, orang-orang Eropa datang dan “menurunkan” nenek moyang kita ke dalam tanah.

Anda masih ingat nama-nama seperti Von Koenigswald dan Eugène Dubois yang hobi menggali itu? Di Sangiran, Trinil, Jetis, Ngandong dll, sampai akhirnya tulang-belulang leluhur manusia Jawa ditemukan di sana. Penemuan manusia purba ditambah paham-paham Eropa tentang evolusi-genetik-migrasi manusia akhirnya mematahkan mitos nenek moyang versi Hindu dan Islam, dan membarukan sejarah peradaban Jawa.

[sumber : wikipedia, buku Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 3 (Lombard), History of Java (Raffles)]

rahayu,

*******